Explore your favorite books and discover new worlds
Sebuah kisah romantis dengan latar belakang kota Berlin yang penuh nostalgia dan cinta. Hi Berlin 1998 mengajak pembaca melakukan perjalanan waktu ke tahun 1998 di kota yang sedang mengalami transformasi.
Kisah ini dimulai ketika Laras, seorang mahasiswi Indonesia yang sedang belajar di Berlin, menemukan buku harian tua di sebuah toko buku loak. Buku harian itu milik seseorang bernama Daniel yang tinggal di Berlin tahun 1998, tepat setelah reunifikasi Jerman.
Melalui buku harian tersebut, Laras terhanyut dalam kisah cinta Daniel dengan Anna, seorang gadis Berlin Timur. Kisah cinta mereka terjadi di tengah perubahan besar kota Berlin, dengan Tembok Berlin yang baru saja runtuh dan suasana kota yang sedang mencari identitas baru.
Paralel dengan kisah masa lalu, Laras juga menjalani kisah cintanya sendiri dengan seorang pemuda Berlin bernama Max. Uniknya, ada banyak kesamaan antara kisah cintanya dengan Max dan kisah Daniel dengan Anna, seolah ada benang merah yang menghubungkan dua kisah cinta di waktu yang berbeda.
Buku ini tidak hanya menceritakan tentang cinta, tetapi juga tentang sejarah Berlin, budaya Jerman, dan bagaimana sebuah kota bisa menjadi saksi bisu dari banyak kisah cinta. Setting tahun 1998 dipilih dengan tepat karena itu adalah masa transisi bagi Berlin, sama seperti masa transisi dalam kehidupan cinta para karakternya.
Dengan penelitian sejarah yang baik dan deskripsi yang detail tentang Berlin, Wahyuni Albiy berhasil menciptakan atmosfer yang autentik. Pembaca seolah diajak berjalan-jalan di Berlin, merasakan dinginnya udara musim gugur, dan menikmati keindahan kota yang penuh dengan sejarah ini.